Bantulah Aku merangkai kata Seandainya



Bantulah Aku merangkai kata Seandainya

Aku ingin menyapamu lagi, setiap kali aku berselancar didunia maya, ketika melihat fotomu ada hasrat dalam diri untuk menyapa, sekedar mengucapkan hay hallo, apa kabar, selamat pagi, sedang sibuk apa atau mungkin “aku kangen”, namun nampaknya itu tak akan mungkin bisa ku lakukan, kita bukan siapa – siapa lagi dan bukan apa – apa lagi. Mungkin aku kini sudah menjadi orang asing bagimu. Sama seperti dulu, sebelum aku menganggap apel itu buah yang sangat ku sukai. Aku, orang yang diperkenankan oleh dirimu untuk datang ke hatimu, dan dengan segala ketakutan mu, semua itu kau hiraukan hingga aku masuk walau hanya sementara. Di sementara itu aku di izinkan untuk tetap merindumu begitupun kamu kepadaku, aku orang yang kamu jadikan sebagai nada pengantar tidur di setiap malam, namun itu hanya cerita kemarin bukan sekarang. setelah semua itu kamu memilih untuk tiada. Usahaku dibatasi dengan realita hingga aku tak bisa apa – apa dan pada akhirnya aku hanya belajar menerima, bahwa ternyata seperti ini rasanya perjuangan merangkai kata seandainya, dan terluka.

Adalah aku yang menjadi persinggahan mu waktu itu, seandainya bukan. Menjauhiku itu sikapmu, seolah dulu kita adalah musuh perang yang saling membeci hingga mendarah daging. Apa ada yang salah dengan aku mencintaimu?, tapi tenanglah aku sudah tau harus ku taruh mana rasa ini, mungkin saja ku simpan pada kerdus susu itu.

Aneh, ada saja yang menggerkan tanganku untuk berselancar di sosial media walau hanya untuk mencari tau perihal kabarmu. Lalu pada akhirnya bukan lega yang ku dapat malah sesak yang ku nikmati. Bersyukur, selepas aku dihempaskan, tak lama dari itu  dirimu sudah bergegas memiliki pemeran utama kebahagianmu lagi, aku senang mengetahui itu. Nampaknya kamu sangat menikmati hidupmu sekarang, kamu sering berekspresi walau hanya sekedar memposting teman bahagiamu, tidak seperti dulu ketika kita masih sama – sama ingin bersama. Aku sudah melawan hasratku untuk tidak mencari tau perihal dirimu namun itu sulit, sangat sulit. Semuanya menumpuk dikepalaku pertanyaan – pertanyaan yang membunuh hatiku kemudian

Aku senang pernah menjadi bagian dari ceritamu walau mungkin itu hanya sepenggal, namun berkatmu aku sedang melakukan cerita yang panjang, bukan dengan bersamamu namun dengan tulisanku yang berisikan kamu. Aku ingin kamu tetap bahagia, meski kadang amarahku menentang itu karna ketidak relaanku dirimu dimiliki oleh orang lain. Jika seandainya aku diizinkan jujur, aku ingin kamu selalu ada, namun jika itu di izinkan. Lalu jika berat untuk bertemu denganku maka setidaknya singgahlah ketika aku memejamkan mata. Akupun tak bisa seperti ini, dunia harus terus berjalan dan memastikan semua dalam diriku baik – baik saja. Aku harus berhenti untuk mengejar, sekeras apapun aku berlari jika dirimu selalu menghindar apalah dayaku, aku hanya bisa menerima, sesekali berharap aku menemukan mu di sela waktu ditempat yang dahulu pernah kita singgahi bersama atau sederhananya ada notifikasi yang muncul darilayar handphoneku. Sebab dari awal aku mengenalmu aku ingin membuatmu bahagia karna ada dua pilihanya, menjadi kekasih atau mantan kekasih.

" Seandainya aku bisa membohongi diriku tentang rasa, mungkin tidak akan seperti Seandainya"


Komentar